Tetesan Air Mata :
Bahagia dan Derita
Part 1
Pagi itu kubuka mata ku, ku lihat
mamah dan kaka ku berkemas. Sontak aku heran, apakah kita akan berwisata atau
apa? Tanpa sepatah kata mereka pergi tanpa mengajak ku. Lalu aku bertanya
kepada ayah “ada apa ini ayah? Kenapa mamah dan kaka pergi”. Ayah hanya dapat
memeluk ku dan berkata “sabar nak, ayah ada di sini”. Sontak akupun terdiam
bingung, wajar saja umurku baru saja menginjak 9 tahun dan aku tak tahu apa-apa
mengenai perceraian. Nama ku sebastian, lahir 9 Desember 1998, aku lahir dari
keluarga sederhana. Mamah ku bernama Oktavia dan ayahku muslim, aku memiliki
kakak permpuan berana Tasya. Kakak ku dan aku memiliki rentan umur 6 tahun.
Dahulu kami hidup bersama, serba
kecukupan dan hidup tentram. Kami tinggal disebuah kota ujung barat Jawa barat
dekat ibu kota negara. Aku penghuni baru di daerah ini, aku pindah kerumah
baruku saat kelas 1 SD. Susananya tergolong nyaman, karna lumayan jauh dari
perkotaan, bahkan masih ada sawah kala itu. Aku ingin bercerita tentang kisahku
saat pertama kali datang kedunia ini. Sebelum aku dilahirkan, konon katanya aku
memiliki kembaran didalam lahir mamahku, bukan seorang bayi melainkan kista. Saat
umur kandungan ku 7 bulan, dokter memeriksa rahim mamah ku. Dan ternyata kista
itu semakin membesar, dokterpun segera memberitahukan kepada orang tua ku bahwa
kista ini harus segera diangkat. Dihawatirkan akan mengganngun janin ku saat
itu, tanpa lama ayah ku mengurus segala persyaratan operasi. Setelah selesai
memenuhi seluruh persyaratan mamahku dibawa ke ruang operasi, dan membedah
perutnya lalu mengangkat kista tersebut. Tadinya akupun akan diangkat bersamaan
dengan kista tersebut, dengan segala pertimbangan dengan alasan keselamatanku
karna jantungku lemah, dokter tidak jadi mengangkatku dari rahim. Kista pun
terangkat dan ruang geraku semakin luas.
Singkat cerita saat sudah tanggalnya
aku dilahirkan dengan cara normal, tapi sayangnya ditengah perjalanan mamahku
tak sanggup lagi, dokterpun mulai panik. Untungnya dokter tersebut cepat berpikir,
dokter saat itu memerintahkan membawa vakum husus untuk meahirkan. Kepalaku disedot
dengan paksa, lalu akupun keluar dan menangis normal sebagai mana bayi pada
umumnya. Terimakasih tuhan telah melahirkan ku, dan terimaksih mamah telah
mengorbankan segalanya untuk ku.
Comments
Post a Comment